Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Waktu terus bergilir tahun demi tahun mengisi hari diantara kita. Kini, tahun 1429 Hijriah datang menjemput. Tentu bagi setiap hamba-Nya, Allah memberi dua pilihan dalam hidup, mengambil langkah fujur dan maksiat atau menempuh jalan taqwa dan kebenaran; memilih dosa atau meraih pahala; beroleh syurga atau neraka.
Penekanan Alquran pada QS.91:8 “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketakwaannya”. Ayat ini semestinya menjadi ibroh buat kaum mu’min. Apalagi konteks ayatnya sangat imlpementatif ketika lafadz “fujur” lebih didahulukan dari lafadz “taqwa”. Hal ini juga berkaitan dengan dominasi sikap dan prilaku manusia, hawa nafsukah yang menjerat umurnya atau pondasi iman dan amal sholehkah yang menyinari setiap langkah hidupnya.
Bahkan seringkali manusia terjebak dengan pilihannya sendiri, misalnya hasil korupsi yang dipergunakan seorang anak untuk membahagiakan orangtuanya, pameran kebajikan melalui sedekah yang ditunaikan, kekhusyuan ibadahnya bercampur dengan sifat riya dan ingin dipuji, ditengah aktivitas membantu orang lain terselip satu bisikan syetan supaya ia dikatakan orang baik, Rasa hasud dan dengki yang dibingkai dengan silaturahim.
Sungguh, kenyataan ini masih menjadi prototipe yang ada di masyarakat, mencampurkan antara yang hak dan yang batil. Bukankah Peringatan Allah sangat tegas dalam Alquran surat Albaqoroh: 42: “janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu sedang kamu mengetahuinya.”
Untuk menyehatkan amaliyah umat-Nya dan menghilangkan kerikil dosa yang terus menjerat setiap ibadah dan langkah kehidupan manusia, Rosulullah memberikan solusi dengan melakukan imunisasi dan sanitasi “hati” karena muara setiap amaliyah manusia adalah dari segumpal darah, ia bernama hati. Bila baik hatinya maka baiklah semua amalnya, dan sebaliknya bila rusak hatinya maka rusaklah seluruh amalnya (muttafaq ‘alaih).
Ketauladanan para sahabat bercermin pada kebeningan dan kejernihan hati Rosulullah. Kepiawaiannya dalam memvisualisasikan ketulusan hati, dengan aktualisasi kepada umatnya, melahirkan tebaran rahmah dan cinta diantara mereka. Rasa benci berubah menjadi sayang dan sayang bertambah menjadi cinta dan taat.
Maka bila di dalam segala aktivitas kita, baik di rumah, kantor atau ketika melakukan traksaksi bisnis, berkomunkasi dengan orang lain, menegakkan hukum dan keadilan, berbagi peduli dengan sesama berbingkai kebersihan hati, ketulusan dan komitmen meraih ridho Allah semestinya tidak terjadi lagi kecurangan, eksploitasi, manipulasi, sifat iri dan dengki.
Keberkahan dalam hidup, ketenangan jiwa dan kedamaian bathin dimulai dari hati yang bersih, yang senantiasa dibentengi dengan ruh ilahiyah agar tidak terjerumus ke dalam jurang kehinaan, karena memperturutkan hawa nafsu.
Wallahu a’lam bis Shawab.R
1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
wah aku sik kdg2 krg nymbung,tpi intine aku ngerti..
Smoga kita termasuk dalam orang yang memilih jalan ketakwaan…
Komentar oleh cesar Maret 20, 2008 @ 5:42 am