Fusliyanto


Surabaya Dulu, Gaza Sekarang “sebuah Analog dari seorang teman”
Januari 19, 2009, 5:37 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized

Surabaya, 1945

Langit gelap. Bukan oleh awan yang hendak menurunkan hujan. Angkasa
dipenuhi pesawat sekutu yang bergemuruh. Di dalamnya, para serdadu masih
menyisakan keangkuhan. Mereka baru saja menghancurkan pasukan Jepang di
Front Pasifik. Dari langit, mereka menebar ancaman: “menyerah, atau
hancur”.

Beberapa pekan sebelumnya, pengibaran bendera Belanda memicu amarah para
perindu kemerdekaan. Seorang pejuang mencabik warna biru dari bendera
Belanda di Tunjungan, menggemakan pesan bahwa negeri ini tak rela kembali
dijajah. Tentara sekutu menjawab dengan salakan senapan, bersembunyi di
balik alasan “memulihkan perdamaian dan ketertiban”. Jiwa-jiwa merdeka itu
berontak. Brigadier Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di
Surabaya, terbunuh. Sekutu murka.

Rakyat gelisah. Surabaya telah lama dikenal sebagai salah satu pusat
perlawanan. Laskar-laskar dari berbagai pesantren dan daerah banyak yang
menjadikan kota ini sebagai markas. Di kota ini pulalah, Cokroaminoto dan
Soekarno muda mendiskusikan cita-cita kemerdekaan.

Suara dari lelaki kurus itu menghapus semua keraguan.

“Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!

Merdeka!”

Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya itu akan terus dikenang sebagai
tonggak kemerdekaan Indonesia. Semua yang mengaku mencintai negeri ini
tidak layak untuk menjadikan peristiwa itu berdebu di pojokan sejarah.

***

Gaza, peralihan tahun 2008-2009

Kota padat berpenduduk sekitar 1,5 juta orang –mayoritas pengungsi akibat
pengusiran biadab Israel sejak tahun 1948, 1967, dan ekspansi ilegal
pemukiman yahudi yang tak pernah menghormati perjanjian yang dibuatnya
sendiri- itu mencekam. Sejak 27 Desember 2008, pesawat-pesawat Israel yang
dilengkapi dengan bom-bom terbaru kiriman Washington membombardir kota
ini. Ehud Barak, Menteri Pertahanan Israel, menyatakan bahwa operasi
berjudul “Cast Lead” ini akan memakan waktu lama. Hingga hari ini, 510
orang telah meninggal dunia dan ribuan luka-luka. Tidak ada jurnalis
diizinkan masuk. Bantuan medis pun kesulitan.

Demonstrasi bergolak dari Jakarta sampai Eropa. Dari Jordania hingga
Amerika. Posko bantuan dibuka di mana-mana, meskipun masih sangat kurang
dibandingkan kebutuhan penduduk Gaza.

“Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.

***

Hati saya sakit saat ada yang berkata: “Ngapain kita ngurusin Palestina,
wong negeri kita saja masih amburadul”.

Semoga kita tidak melupakan sejarah bahwa Al-Hajj Amin Al Husaini, Mufti
Palestina, adalah orang pertama yang menyiarkan kemerdekaan Indonesia di
radio internasional.

Alasan yang sepintas terlihat nasionalis ini adalah pengkhianatan kejam
pada nasionalisme Indonesia itu sendiri. Preambule Undang-undang Dasar
1945 mendeklarasikan dengan jelas perlawanan pada segala bentuk
penjajahan. Soekarno dan Hatta berkali-kali menandaskan bahwa nasionalisme
Indonesia tumbuh di taman kemanusiaan. “Jangan pikirkan hal lain kecuali
Indonesia” adalah logika yang menghina keindonesiaan.

Hati saya lebih sakit lagi saat ada yang mengatakan “Itu kan salah HAMAS
sendiri yang tidak mau damai dan menembakkan roket! Media di Indonesia
terlalu berpihak pada Palestina, nih…gak berimbang!”

Lalu, yang berimbang itu seperti apa? Seperti media massa Barat yang lebih
menyalahkan HAMAS, menyiarkan propaganda Israel bahwa serangan ini adalah
respon dari tindakan HAMAS menyerang Israel, menyalahkan sikap HAMAS yang
memutus gencatan senjata? Sepertinya kita harus menelaah peringatan
Finkelstein, seorang ilmuwan Yahudi, dalam bukunya Beyond Chutzpah: On the
Misuse of Anti-Semitism and Abuse of History dan Image and Reality of
Israel-Palestinian Conflict. Sejarah telah dibajak untuk tidak pernah
mengkritisi Israel dan media massa pun tidak bebas dari pembajakan ini.
Untuk melihat bias media barat dalam isu Palestina, silakan buka
www.ifamericansknew .org.

Bahkan, menurut saya, media di Indonesia masih terlalu berpihak pada
Israel. Tidak ada yang menyebutkan fakta bahwa pemutusan gencatan
bersenjata oleh HAMAS itu didahului oleh surat protes gerakan perlawanan
itu atas terbunuhnya 4 orang petani di Gaza oleh tentara Israel. Tidak ada
yang mengingatkan bahwa Israel terus melanggar perjanjian damai yang
disepakatinya sendiri dengan membiarkan pemukiman ilegal terus tumbuh.
Kita juga tak boleh lupa dengan tembok pemisah apartheid Israel yang
memutus akses rakyat Palestina pada kebutuhan vital kehidupan. Belum lagi
blokade Gaza yang lebih kejam dari Blokade Berlin pada masa Perang Dingin.

“Itu kan salah HAMAS sendiri yang tidak mau damai…”

Sampaikan pernyataan itu pada Bung Tomo dan para pendiri negeri ini.
Alhamdulillah, para pendiri negeri ini menolak iming-iming perdamaian
palsu di bawah ketiak Ratu Belanda. Soekarno bahkan menantang: “Ini
dadaku, mana dadamu!”

Kalau kita menggunakan logika yang sama, berarti kita mendukung Agresi
Militer Belanda pada tahun 1948. “Itu kan salah para pejuang kemerdekaan
Indonesia yang tidak mau damai!”

Tidak banyak yang mengingatkan bahwa Israel berdiri dengan berkubang darah
pembersihan etnis yang menghalalkan pembantaian dan pengusiran terhadap
penduduk asli Palestina (Ilan Pappe: The Ethnic Cleansing of Palestine).
Komunitas Yahudi yang hidup dalam perdamaian di bawah Khilafah Utsmaniyah
tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan saudara-saudara mereka yang mengungsi
dari kebiadaban Eropa dan membawa ide rasis radikal untuk mendirikan
Israel (Amy Dockser Marcus, Jerusalem 1913). Bayangkan, komunitas yahudi
saat itu yang sekecil komunitas muslim di Swedia saat ini tiba-tiba
menuntut Negara sendiri dengan luas wilayah yang melebihi luas wilayah
penduduk aslinya. Kalau muslim di Swedia tiba-tiba menuntut mendirikan
Negara Islam, mereka pasti segera dicokok dan dilabeli teroris.

Memori pembantaian ini dihapus dari sejarah dunia dan dari kesadaran
rakyat Israel. Pada saat yang bersamaan, kenangan pahit ini terus hidup di
antara rakyat Palestina. Maka, sangat sulit bagi orang Palestina untuk
menerima perdamaian yang tidak pernah berpihak pada mereka, lha wong
keberadaan Israel saja tidak legal! Wajar jika popularitas HAMAS semakin
lama justru semakin meningkat.

Indonesia saat itu tegas tidak mengakui Israel karena melihat fakta ini.
Sayang, kini banyak yang sudah lupa. Banyak yang terjebak dalam narasi
fiktif “Israel yang cinta damai terancam keberadaannya oleh HAMAS yang
ekstrimis yang tidak mau damai”.

Kalaupun kita harus menerima fakta bahwa berdasarkan hukum rimba Israel
itu eksis, tidak berarti bahwa kita berhak menyalahkan mereka yang
menghendaki perdamaian sejati yang lahir dari kemerdekaan. Saya mendukung
proses perdamaian, tapi harus dengan dialog yang adil dan terbuka yang
melibatkan HAMAS sebagai kekuatan riil di Timur Tengah. Tidak sekedar
perjanjian sepihak yang dibuat AS dan Israel lalu dipaksakan pada
Palestina.

Kemanusiaan. Keindonesiaan. Islam. Ketiganya memaksa saya berpihak pada
yang lemah dan tertindas.


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

YAUMUL AFIFAH
060210402145

1. Paragraf deduktif adalah paragraf berpola umum-khusus.dimana ide pokok atau gagasan utama terletak di awal setiap kalimat dalam suatu paragraf.
Contoh paragraf deduktif:
Prioritas utama dalam suatu pembelajaran ialah menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan untuk menunjang pendidikan, pekerjaan atau untuk mencapai cita-cita kita. Jika kita bergerak di bidang Teknologi Informasi, tentunya kita harus banyak melahap literatur (buku, artikel, majalah) yang berhubungan dengan TI. Kita juga bisa belajar dengan mengamati sepak terjang tokoh-tokoh bisnis TI ataupun perusahaan TI yang telah sukses di bidang masing-masing. Jika kita bergerak di bidang Sumber Daya Manusia (SDM), pastilah topik-topik pengembangan sumber daya manusia, dan pelatihan-pelatihan yang diperlukan untuk meningkatkan kualitas SDM menjadi topik-topik utama yang perlu kita gali.
2. Klausa adalah satuan terkecil dari kalimat yang terdiri atas fungsi subyek dan predikat. Adapun jenis – jenis klausa adalah sebagai berikut :
a. Klausa Verba adalah klausa yang memiliki predikat verba atau kata kerja
- Ibu sedang memasak
- Adik berlari-lari
b. Klausa Adverb adalah klausa yang memiliki predikat keterangan
- Gadis yang bertubuh langsing
- Lelaki separuh baya
c. Klausa Nomina adalah klausa yang memiliki predikat nomina (benda) baik animat maupun non animat
- Perempuan itu sudah bersuami
- Gadis yang berlipstik tebal
d. Klausa Adjektiva adalah klausa yang memiliki predikat adjektiva atau kata sifat
- Afif yang sangat cantik
- Seorang yang sangat anggun

e. Klausa Numeralia adalah klausa yang memiliki predikat numerik atau bilangan
- Mereka hanya berdua saja
- Giginya tinggal dua
3. a. Peyorasi adalah perubahan makna dari yang tinggi menjadi rendah
- Ani adalah bini Pak Rodli
- Wanita malam itu suka berkeliaran di pinggir jalan
b. Sinestesia adalah perubahan makna berdasarkan panca indera
- Ucapannya sangat pedas
- Kata-kata manisnya mampu membuat hatiku luluh
c. Asosiasi adalah perubahan makna yang diasosiasikan pada benda-benda tertentu sebagai salah bentuk simbolik.
– Orang-orang saat ini sedang berebut kursi dalam parlemen
– Mereka sedang memakan uang rakyat yang semestinya bukan hak mereka
d.Afiksasi adalah perubahan makna dengan penambahan imbuhan, terutama imbuhan awalan.
– Kakakku memakan kue kesukaanku
– Adikku tertawa terpingkal-pingkal ketika melihat Opera Van Java
4. Kesalahan dalam pengkajian buku teks adalah kesalahan-kesalahan penyajian materi yang terdapat di dalam buku teks, untuk kemudian dikaji dan dicari titik kesalahannya sehingga dapat diperbaiki sesuai dengan prosedur buku teks yang benar dan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna buku teks itu sendiri.
5. a. Kata ulang adalah kata yang mengalami perulangan atau repetisi.
– Anang berlari-lari mengejar bola di lapangan
b. Perluasan makna adalah salah satu bentuk perubahan makna dari sifatnya sempit menjadi bermakna luas.
– Ibu guru sedang mengajar di depan kelas
c. Penyempitan makna adalah salah satu bentuk perubahan makna dari bersifat luas menjadi bermakna sempit.
– Dia telah menjadi sarjana setelah menempuh studi bertahun-tahun lamanya.
d. Paragraf analogi adalah pargraf yang menunjukkan perbandingan yang pada hakikatnya memiliki persamaan.
– Para atlet memiliki latihan fisik yang keras guna membentuk otot-otot yang kuat dan lentur. Demikian juga dengan tentara, mereka memerlukan fisik yang kuat untuk melindungi masyarakat. Keduanya juga membutuhkan mental yang teguh untuk bertanding ataupun melawan musuh-musuh di lapangan. Oleh karena itu, untuk menjadi atlet dan tentara harus memiliki fisik dan mental yang kuat.
6. a. Saya bersepeda santai dengan menaiki Phoenik
b. Dia adalah seorang tuna wisma yang hidup sebatang kara
c. Indonesia memenangkan juara tinju tingkat WBA di Manila kemarin.
d. Mampirlah ke gubuk saya!
7. a. Karangan argumentasi adalah karangan untuk mengemukakan pendapat atau opini sedangkan karangan eksposisi adalah karangan yang bersifat paparan untuk menjelaskan sesuatu.
b. Kalimat berpelengkap adalah kalimat yang di dalamnya memiliki fungsi pelengkap sedangkan kalimat berobjek adalah suatu kalimat yang di dalamnya hanya memiliki fungsi objek tanpa pelengkap.
c. Paragraf deduktif adalah paragraf yang ide pokoknya terletak di awal paragraf dan berpola umum-khusus sedangkan paragraf induktif adalah paragraf yang ide pokoknya terletak di akhir kalimat dalam paragraf dan berpola khusus-umum.
8. Ketika hujan turun dengan derasnya/ dan disertai guntur yang menggelegar/ Andi pergi menolong/ kakek tua yang kelaparan itu/ ke Puskesmas//
9. Menurut Saya, seorang guru yang BAIK adalah guru yang mampu memahami materi dengan sebaik-baiknya baru kemudian mampu menciptakan metode dan ide-ide kreatif serta cerdas demi penguasaan materi yang cepat, efektif dan menyenangkan bagi siswanya. Karakter guru yang bijaksana (mampu bertindak obyektif), tenang namun tangkas dalam mengambil keputusan adalah gambaran ideal seorang guru yang BAIK.
10. Menurut Saya, yang paling bertanggung jawab mengenai ketidaksukaan siswa pada suatu mata pelajaran ada dua faktor utama yaitu:
a. Diri Sendiri. Pada hakikatnya motivasi diri sendiri adalah motivasi utama yang sangat berpengaruh terhadap kesukaan/ketidaksukaan seorang siswa terhadap mata pelajaran tertentu. Umumnya jika siswa menyukai eksak, Ia cenderung enggan mempelajari bahasa atau social. Sebaliknya jika siswa menyukai bahasa atau sosial maka ia enggan mempelajari eksak.
b. Guru. Waktu siswa lebih banyak dihabiskan di sekolah, untuk itu siswa juga terbiasa berhadapan dengan berbagai guru dan karakternya. Metode mengajar dan pemaahaman guru terhadap materi pelajaran menjadi hal yang sangat berpengaruh, apakah siswa tersebut menyukai atau tidak menyukai mata pelajaran tertentu. Semakin guru siap dengan materi yang diajarkan dan dikombinasikan dengan metode mengajar yang efektif dan menyenangkan, maka semakin berminat pula siswa mengikuti mata pelajaran tersebut, tidak peduli apakah mereka cenderung pada kompetensi dasar eksak atau sosial.
c. Lingkungan. Pengaruh lingkungan siswa (teman-teman di sekitarnya atau orang tua) sedikit banyak juga mampu mempengaruhi kesukaan/ketidaksukaan siswa terhadap mata pelajaran tertentu, baik melalui pembicaraan santai tentang mata pelajaran tertentu yang banyak tidak disukai siswa hingga pada doktrinasi (misalnya orang tua yang memvonis bahwa anaknya tidak mampu matematika, maka secara tidak sadar anaknya juga menjadi tidak suka matematika).

Komentar oleh yaumul afifah

bapakku sayang…saya minta maaf terlambat setengah jam. parahnya gaptek buat saya panik dan bingung. alhamdulilah berkat otodidak selama setengah jam masuk juga. semoga ini berkat doa bapak. tetap dapat A ya pak!!

Komentar oleh yaumul afifah




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>