Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Berikut Nama-nama yang telah mengumpulkan baik lewat blog atau e-mail
NB: Bagi 3 mahasiswa yang belum tanda tangan harap temui saya. Call 0331 3689227
Bagi yang belum terdaftar namanya Call Juga
fatimah azzahro
silvy dwy rahmawati
denies hermawan
nurul elfatul faris
ninin yunita kristanti
oky natacya dewi
dwi hidayati
helmi nilasari
tegus basuki
dyah kirana
sabib ulul albab
atika wahyuningtyas arifi
yaumum afifah
fredy manuputy
diana
novario ari ardiansyah
dian kusuma
ahmad majid arrosyid
indah wulan
Iin Farida
prasdita saputri
ainur rofik
carina astari
VJ Alee
Ariel sabib
joe A
Ari mulyaningsih
kamila
santi nurindah sari
aisa nur rohmah
mardiyah ika septi
ria
ailianan trisna
risca ningrum
vaega rohidzafi
laila wahidan
mila susanti
ina
muhimatul ailiyah
pipit ermawati
siti masruroh
luluk kamila
rahma wulan puspareni
siska muawanah
lita yuli hartatik
selfi yuni fitria
titis budi sevani
wahdiyatul masruroh
nailul rochmatil maula
nur muhlisoh armi
rizki murniasih
siti mutmainah
laila R.W
& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
NAMA : ANITA KURNIAWATI
NIM : 070210482002
Angkatan 2007
Jawaban Soal Ujian Akhir Semester Genap 2008/2009
Mata Kuliah Telaah Buku Teks Sekolah
1. Paragraf adalah susunan dari beberapa kalimat yang terjalin utuh, mengandung sebuah makna, dan didalamnya terdapat gagasan utama. Paragaraf deduktif dan Induktif adalah salah satu contoh paragraf yang dilihat dari letak gagasan utamanya. Paragraf deduktif adalah paragraf dengan kalimat utama terletak di awal paragraf, kemudian diikuti oleh beberapa kalimat penjelas sebagai pelengkapnya. Paragraf ini diawali dengan pernyataan umum dan disusul dengan penjelasan umum.
Contoh paragraf deduktif:
Pada tahun 2008 kualitas masyarakat Indonesia semakin rendah. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya angka pengangguran di Indonesia , yang prosentase angka pengangguran tahun sebelumnya hanya 30%, dan tahun ini bertambah menjadi 40%. Angka kriminalitas di Indonesia juga semakin membeludak, yang menjadi semakin parah banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengikuti program pemerintah wajib belajar 9 tahun. Dilihat dari dua realita ini kita sudah bisa mengukur SDM masyarakat Indonesia .
2. Jenis klausa berdasarkan urutan kata :
1. Klausa normal (subjek mendahului predikat). Contoh : Ryan penari balet.; Ibu menanam pohon.
2. Klausa inversi (predikat mendahului subjek). Contoh : Kepergian Lavie tak tentu arah.; Pergi kau dari sini!
3. Klausa inversi khusus (klausa inversi yang didahului oleh keterangan). Contoh : Kemarin datanglah surat itu.; Dari tadi perginya Elma.
Jenis klausa berdasarkan variasi subjek-predikat :
1. Klausa berpredikat kata kerja intransitif, yaitu klausa yang predikatnya berupa kata kerja yang tidak membutuhkan objek. Contoh : Frans sedang menari.; Elma sedang menangis.
2. Klausa berpredikat kata kerja transitif, yaitu klausa yang predikatnya membutuhkan objek. Contoh : Yosito mengembalikan sapu.; Elma menanti kekasihnya.
3. a. Peyorasi: makna sekarang lebih jelek/lebih rendah daripada makna kata asal sebelumnya. Contoh: kroni, makna asal sahabat dan makna barunya kawan dari penjahat.
b. Sinestesia: makna kata yang timbul karena tanggapan dua indera yang berbeda. Contoh: Namanya harum.
c. Asosiasi: Makna kata yang timbul karena persamaan sifat. Contoh: Hati-hati menghadapi tukang catut di bioskop itu.
d. Afiksasi: Afiksasi merupakan morfem terikat yang ditambahkan pada awal morfem dasar. Proses afiksasi terjadi apabila sebuah morfem terikat dibubuhkan atau dilekatkan pada sebuah morfem bebas secara urutan lurus. Berdasarkan posisi morfem terikat pada morfem bebas tersebut, dibedakan atas:
a. Prefiks, yaitu morfem terikat yang ditambahkan pada awal morfem dasar, misalnya: ber-, me-, se-, per-, ter-, ke-, pe-, dan seterusnya yang terdapat pada kata. Contoh: berbaju, menangis, serumah, perasa.
b. Infiks, yaitu merupakan morfem yang disisipkan ke dalam kata, misalnya: -el, -er, em dalam bahasa Indonesia .
Contoh:
- getar + el → geletar
- getar + em → gemetar
- gigi + er → gerigi
c. Sufiks, yaitu merupakan morfem yang ditambahkan pada akhir atau megikuti bentuk dasar, misalnya: -an, – kan , -i.
Contoh:
Tanam → tanaman, tanamkan, tanami
d. Konfiks bisa juga disebut dengan simulfiks adalah gabungan prefiks dan sufiks yang mengapit dasar kata dan membentuk satu kesatuan. Atau bisa juga diartikan dua buah afiks yang secara bersama-sama (simultan) bergabung dengan bentuk dasar. misalnya: ke-an, per-an, pe-an, dan seterusnya.
Contoh:
Per – an → perbedaan ke – an → keterangan
perjungan kesatuan pembuktian
pe – an → perumahan
pekarangan
4. Kesalahan dalam pengkajian buku teks meliputi 10 persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu buku teks yang berkualitas tinggi, maka dapat disimpulkan secara umum bahwa buku teks yang dikaji tidak memenuhi 8 dari 10 persyaratan tersebut. Harus menarik minat anak-anak, yaitu para siswa yang menggunakannya, harus mampu memberi motivasi siswa yang memakainya, persyaratan terakhir yaitu: harus mampu memberi pemantapan, penekanan pada nilai-nilai anak dan orang dewasa; serta harus dapat menghargai perbedaan-perbedaan pribadi para siswa pemakainya tidak dipakai karena sulit mengukur dan membuktikannya.
5. a. Kata Ulang: Kata ulang adalah jenis kata yang sangat banyak digunakan dalam percakapan kita sehari-hari dalam bahasa Indonesia . kata ulang atau reduplikasi merupakan kata yang mengalami proses perulangan, baik sebagian ataupun seluruhnya dengan disertai perubahan bunyi ataupun tidak. Contoh: pelajar-pelajar, berjalan-jalan, setinggi-tingginya.
b. Perluasan Makna (generalisasi): Perluasan makna kata terjadi apabila makna kata sekarang lebih luas daripada makna asalnya. Contoh: Petani, peternak, berlayar, ibu, dan sebagainya.
c. Penyempitan Makna (spesialisasi): Penyempitan makna kata dapat terjadi apabila makna suatu kata lebih sempit cakupannya dari makna asal. Penyempitan adalah kebalikan dari perluasan.Contoh:Pendeta,sarjana,sastra,pembantu,dan sebagainya
d. Paragraf Analogi: Analogi adalah penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, Anda dapat menarik kesimpulan.
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
6. a. Majas Metonemia: Kemarin ia memakai Fiat , sekarang naik Kijang ( merk mobil )
b. Majas Eufemisme: – para tunakarya perlu perhatian yang serius dari pemerintah.
- Pramuwisma bukan pekerjaan hina.
- Ayahnya sudah tidak berada di tengah-tengah mereka.
c. Majas Sinekdok Totem Pro Parte: – Sekolah ini selalu menjadi juara pertama pertandingan basket antarpelajar.
- Kaum wanita memperingati hari Kartini.
d. Majas Litotes: Prjuangan kami hanyalah setitik air dalam samudera luas.
7. a. Karangan argumentasi VS karangan Eksposisi:
Perbedaan:
1) Tujuan paparan hanya menjelaskan dan menerangkan, sehingga pembaca memperoleh informasi yang sejelas-jelasnya. Sedangkan argumentasi bertujuan mempengaruhi pembaca, sehingga pembaca akhirnya menyetujui bahwa pendapat, keyakinan, dan sikap penulis benar.
2) Grafik, statistik, dan lain-lain pada paparan untuk menjelaskan. Sedangkan grafik, statistik dan lain-lain pada argumentasi untuk membuktikan.
3) Pendahuluan pada paparan memperkenalkan topik dan tujuan yang akan dipaparkan. Sedangkan pendahuluan atau pembuka pada argumentasi berisi latar belakang dan sejarah persoalan, sistematika yang digunakan, pengertian persoalan, sera tujuan argumentasi.
4) Penutup pada akhir paparan biasanya manegaskan lagi apa yang telah diuraikan sebelumnya. Sedangkan pada akhir argumentasi biasanya menyimpulkan apa yang telah diuraikan sebelumnya.
b. Kalimat Berpelengkap:
1. Kategori katanya dapat nomina, verba (kata kerja), atau adjektiva (kata sifat)
2. Berada di belakang verba semitransitif atau dwitransitif dan dapat didahului oleh preposisi
3. Tidak dapat dipasifkan
4. Tidak dapat diganti dengan kata –nya, kecuali jika didahului oleh preposisi selain di, ke, dari, dan akan
Kalimat berobjek:
1. Kategori katanya nomina atau nominal (kata benda)
2. Berada langsung di belakang verba transitif aktif tanpa preposisi (kata depan)
3. Dapat dipasifkan.
4. Dapat diganti dengan -nya
c. Paragraf Deduktif: Paragraf deduktif adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal paragaraf dan dilengkapi dengan kalimat penjelas sebagai pelengkapnya. Paragraf ini diawali dengan pernyataan umum dan disusul dengan penjelasan umum.
Paragraf induktif: adalah paragraf yang dimulai dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa yang khusus, untuk menuju kepada kesimpulan umum, yang mencakup semua peristiwa khusus di atas.
Ciri-ciri Paragraf Induktif:
Terlebih dahulu menyebutkan peristiwa-peristiwa khusus
Kemudian, menarik kesimpulan berdasarkan peristiwa-peristiwa khusus
Kesimpulan terdapat di akhir paragraf
8. Ketika hujan turun dengan derasnya/ dan /disertai guntur yang menggelegar /Andi pergi menolong kakek tua yang kelaparan itu ke puskesmas/.
9. Guru adalah faktor kunci bagi pewujudan sekolah ramah anak (SRA) dengan cara membantu meningkatkan minat anak-anak dalam pembelajaran, partisipasi dan pengungkapan pendapat. Siswa ingin para guru menghormati harga diri siswa, sensitif terhadap kondisi emosi mereka, memberi kebebasan mengekspresikan diri dan bersikap adil pada semua anak apapun latar belakang, gender, kemampuan, dan ciri-ciri individual lainnya. Sebagian besar anak memimpikan guru-guru yang penyayang dan perhatian. Definisi guru yang baik selalu diuji para pendidik, administrasi pendidikan, dan para guru sendiri. Pemerintah, pakar dan orang-orang yang berkompeten serta masyarakat dan media memiliki haparapan-harapan mereka masing-masing. Akan tetapi, belum banyak orang tanya kepada anak-anak sebagai penerima layanan pendidikan apa pendapat mereka mengenai hal ini. Pada kenyataannya, anak-anak merupakan alasan munculnya profesi guru dan melalui mereka pulalah profesi ini mendapat nilai yang berharga. Buku yang berisi pendapat anak dalam cerita-cerita dan gambar-gambar dapat berguna bagi guru dan pelatih guru sebagai katalis refleksi diri. Buku tersebut juga dapat digunakan dalam kelompok-kelompok belajar untuk memotivasi dan membantu para guru bersama-sama merefleksikan diri dan mencari cara mencapai standar yang diinginkan anak-anak pada mereka. Sangat penting bahwa ungkapan jujur anak-anak menginspirasi dan memotivasi para guru untuk mengembangkan tingkat tanggapan guru pada kebutuhan siswa. Guru yang mampu menangani hukuman dan manajemen kelas dalam cara yang positif sering disebut sebagai karakteristik guru yang baik. Manajemen kelas mengacu pada perilaku guru yang memfasilitasi belajar-mengajar. Manajemen kelas ini sangat penting terutama dalam penanganan kelas besar, pengajaran lebih dari 1 kelas secara simultan, berhubungan dengan anak-anak yang pandai, nakal, pemalu dan lemah. ‘Bagaimana guru yang baik itu’ menggunakan wawancara, diskusi kelompok, bermain peran dan gambar dalam mengumpulkan pendapat anak-anak tentang guru. Guru yang baik pada dasarnya adalah manusia yang baik. Mereka memiliki kepribadian penyayang, baik, hangat, sabar, tegas, luwes dalam perilaku, bekerja keras, serta berkomitmen pada pekerjaan mereka. Pusat perhatian mereka bukanlah pada buku teks atau kurikulum, tetapi pada anak! Mereka sangat menyadari beragamnya cara anak-anak belajar, perbedaan antar anak-anak dan pentingnya metode beragam untuk mendorong siswa mampu belajar. Anak-anak yang belajar dengan guru semacam itu tidak perlu lagi mengeluarkan uang tambahan untuk mengikuti les sepulang sekolah.
10. Guru adalah orang yang paling bertanggung jawab apabila siswa tidak suka dengan sebuah mata pelajaran di sekolah, karena seorang guru selain bertugas sebagai pendidik ia adalah pembimbing siswa. Karena itu guru bertanggung jawab atas hal tersebut.
Komentar oleh Anita Kurniawati Juni 29, 2009 @ 5:22 amass. pak saya shanti yanuar kristi angkatan 2006 FKIP bahasa Indonesia….
Komentar oleh shanti yanuar kristi Juni 29, 2009 @ 12:23 pmmaaf pak, mau tanya…
knapa nama saya belum dicantumkan….
saya kan sudah telp pak fus….
terima kasih…
Indra hardiyansyah
060210402370
angkatan : 2006
jawaban :
1
Paragraph deduktif adalah paragraph yang ide pokoknya berada di awal paragraph kemudian disusul dengan beberapa kalimat penjelas.
Contoh paragraph deduktif :
Kuburan band adalah salah satu band fenomenal di kancah musik Indonesia dengan penampilannya yang unik dan mengusung tema hantu, band ini tidak sungkan membawakan lagu aneh yang sebenarnya tidak berkualitas. Namun, karena hal itulah Kuburan band menjadi perbincangan dimana-mana. Dari anak-anak hingga orang tua, semua menyukai Kuburan band. Hampir setiap hari penampilannya terlihat di berbagai acara televisi.
2
Jenis-jenis Klausa
Ada tiga dasar yang dapat digunakan untuk mengklasifikasikan klausa. Ketiga dasar itu adalah (1) Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya (BSI), (2) Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang menegatifkan P (BUN), dan (3) Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P (BKF). Berikut hasil klasifikasinya :
1.Klasifikasi klausa berdasarkan struktur internnya.
1.Klausa Lengkap
Klausa lengkap ialah klausa yang semua unsur intinya hadir.
Klausa ini diklasifikasikan lagi berdasarkan urutan S dan P menjadi :
1.Klausa versi, yaitu klausa yang S-nya mendahului P. Contoh :
Kondisinya sudah baik.
Rumah itu sangat besar.
Mobil itu masih baru.
2.Klausa inversi, yaitu klausa yang P-nya mendahului S. Contoh :
Sudah baik kondisinya.
Sangat besar rumah itu.
Masih baru mobil itu.
2.Klausa Tidak Lengkap
Klausa tidak lengkap yaitu klausa yang tidak semua unsur intinya hadir. Biasanya dalam klausa ini yang hadir hanya S saja atau P saja. Sedangkan unsur inti yang lain dihilangkan.
2.Klasifikasi klausa berdasarkan ada tidaknya unsur negasi yang secara gramatik menegatifkan P.
1.Klausa Positif
Klausa poisitif ialah klausa yang ditandai tidak adanya unsur negasi yang menegatifkan P. Contoh :
Ariel seorang penyanyi terkenal.
Mahasiswa itu mengerjakan tugas.
Mereka pergi ke kampus.
2.Klausa Negatif
Klausa negatif ialah klausa yang ditandai adanya unsur negasi yang menegaskan P. Contoh :
Ariel bukan seorang penyanyi terkenal.
Mahasiswa itu belum mengerjakan tugas.
Mereka tidak pergi ke kampus.
3.Klasifikasi klausa berdasarkan kategori frasa yang menduduki fungsi P.
1.Klausa Nomina
Klausa nomina ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa nomina. Contoh :
Dia seorang sukarelawan.
Mereka bukan sopir angkot.
Nenek saya penari.
2.Klausa Verba
Klausa verba ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa verba. Contoh :
Dia membantu para korban banjir.
Pemuda itu menolong nenek tua.
3.Klausa Adjektiva
Klausa adjektiva ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa adjektiva. Contoh :
Adiknya sangat gemuk.
Hotel itu sudah tua.
Gedung itu sangat tinggi.
4.Klausa Numeralia
Klausa numeralia ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori numeralia. Contoh :
Anaknya lima ekor.
Mahasiswanya sembilan orang.
Temannya dua puluh orang.
5.Klausa Preposisiona
Klausa preposisiona ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategori frasa preposisiona. Contoh :
Sepatu itu di bawah meja.
Baju saya di dalam lemari.
Orang tuanya di Jakarta.
6.Klausa Pronomia
Klausa pronomial ialah klausa yang P-nya berupa frasa yang termasuk kategoi ponomial. Contoh :
Hakim memutuskan bahwa dialah yang bersalah.
Sudah diputuskan bahwa ketuanya kamu dan wakilnya saya.
4.Klasifikasi klausa berdasarkan potensinya untuk menjadi kalimat
1.Klausa Bebas
Klausa bebas ialah klausa yang memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor. Jadi, klausa bebas memiliki unsur yang berfungsi sebagai subyek dan yang berfungsi sebagai predikat dalam klausa tersebut. Klausa bebas adalah sebuah kalimat yang merupakan bagian dari kalimat yang lebih besar. Dengan perkataan lain, klausa bebas dapat dilepaskan dari rangkaian yang lebih besar itu, sehingga kembali kepada wujudnya semula, yaitu kalimat. Contoh :
Anak itu badannya panas, tetapi kakinya sangat dingin.
Dosen kita itu rumahnya di jalan Ambarawa.
Semua orang mengatakan bahwa dialah yang bersalah.
2.Klausa terikat
Klausa terikat ialah klausa yang tidak memiliki potensi untuk menjadi kalimat mayor, hanya berpotensi untuk menjadi kalimat minor. Kalimat minor adalah konsep yang merangkum : pangilan, salam, judul, motto, pepatah, dan kalimat telegram. Contoh :
Semua murid sudah pulang kecuali yang dihukum.
Semua tersangkan diinterograsi, kecuali dia.
Ariel tidak menerima nasihat dari siapa pun selain dari orang tuanya.
5.Klasifikasi klausa berdasarkan criteria tatarannya dalam kalimat.
1.Klausa Atasan
Klausa atasan ialah klausa yang tidak menduduki f ungsi sintaksis dari klausa yang lain. Contoh :
Ketika paman datang, kami sedang belajar.
Meskipun sedikit, kami tahu tentang hal itu.
2.Klausa Bawahan
Klausa bawahan ialah klausa yang menduduki fungsi sintaksis atau menjadi unsur dari klausa yang lain. Contoh :
Dia mengira bahwa hari ini akan hujan.
Jika tidak ada rotan, akarpun jadi.
3 a
Peyorasi, ialah perubahan nilai rasa menjadi lebih rendah dari yang sebelumnya. Arti kata dianggap mengalami peyorasi jika nilainya merosot, misalnya, dari yang semula bernilai hormat, menjadi hina, disukai menjadi tidak atau kurang disukai, dll. Misalnya, kata abang, perempuan, bini, gerombolam, betina, emak eksekusi, dll.
Dahulu kata abang mempunyai arti yang sejajar dengan kata kakak. Karena, terlalu sering digunakan untuk menunjuk orang-orang dari lapisan sosial bawah, seperti abang becak, abang bakso, dll, kemudian orang dari lapisan sosial tertentu tidak suka jika disapa dengan kata abang. Dengan demikian nilai kata tersebut menjadi merosot.
3 b
SINESTESIA. Sebuah metafora yang memakai ungkapan berupa sesuatu hal yang berhubungan dengan suatu indera manusia yang dikenakan kepada indera lainnya. Menguraikan reaksi salah satu indera manusia dengan tanggapan yang pada keadaan sebenarnya adalah tanggapan dari indera lainnya.
Contoh:
a.
Wahai, sayap terbakar dan gulita pada mata.
Orang buangan tak bisa lunak pada kata.
….
(“Burung Terbakar”, W.S. Rendra, “Empat Kumpulan Sajak”, Pustaka Jaya: Jakarta, Cet.1 1961, Cet. 8, 2003)
….
Katakanlah, Paman Doblang, katakanlah
dari hulu mana mereka datang:
manisnya madu, manisnya kenang.
(“Ciliwung”, ibid)
3 c
Asosiasi adalah perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat.
Contoh: Beri saja dia amplop, pasti segala urusanmu jadi lebih mudah.
amlpop (makna asal) : tempat menyimpan surat
(makna sekarang) : uang suap
3 d
Afiksasi
Dalam tata bahasa Indonesia afiks disebut imbuhan, yaitu morfem terikat yang dapat mengubah makna gramatikal suatu bentuk dasar. Misalnya me- dan -kan, di- dan -kan, yang dapat mengubah arti gramatikal seperti arsip menjadi mengarsipkan, diarsipkan.
Proses penambahan afiks pada sebuah bentuk dasar atau kata dasar imiah yang disebut afiksasi. Afiks yang terletak di awal bentuk kata dasar. seperti ber-, di-; ke-, me-, se-, pe-, per-, ter-, pre-, swa-,adalah prefiks atau awalan. Yang disisipkan di dalam sebuah kata dasar, seperfi -em, -er-, -el-, di-sebut infiks atau sisipan. Yang terletak di akhir kata dasar, seperti -i -an, -kan, -isme, -isasi, -is, -if dan lain-lain dinamakan sufiks atau akhiran.
Gabungan prefiks dan sufiks yang membentuk satu kesatuan dan bergabung dengan kata dasarnya secara serentak seperti :ke-an pada kata keadilan, kejujuran, kenakalan, keberhasilan, kesekretarisan, pe-an seperti pada kata pemberhentian, pendahuluan, penggunaan, penyatuan, dan per-an sebagaimana dalam kata pertukangan, persamaan, perhentian, persatuan dinamakan konfiks.
4
Pengertian “Kesalahan dalam Pengkajian Buku Teks”.
Kebanyakan pengkajian buku teks mempunyai letak kesalahan dalam penyesuaian dengan materi yang akan diberikan. Hal ini mencakup urut-urutan materi dan kesinambungan antar materi yang dikaji. Jadi yang perlu diperhatikan dalam pengkajian buku teks adalah keterkaitan antar materi itu sendiri.
5 a
Kata ulang sangat banyak digunakan dalam percakapan kita sehari-hari dalam bahasa Indonesia. Di bawah ini merupakan arti dari kata ulang yang ada di Indonesia, yaitu antara lain :
1. Kata ulang yang menyatakan banyak tidak menentu
Contoh :
- Di tempat kakek banyak pepohonan yang rimbun dan lebat sekali.
- Pulau-pulau yang ada di dekat perbatasan dengan negara lain perlu diperhatikan oleh pemerintah.
2. Kata ulang yang menyatakan sangat
Contoh :
- Jambu merah pak raden besar-besar dan memiliki kenikmatan yang tinggi.
- Anak kelas 3 ipa 1 orangnya malas-malas dan sangat tidak koperatif.
3. Kata ulang yang menyatakan paling
Contoh :
- Setinggi-tingginya Joni naik pohon, pasti dia akan turun juga.
- Mastur dan Bornok mencari kecu sebanyak-banyaknya untuk makanan ikan cupang kesayangannya.
4. Kata ulang yang menyatakan mirip / menyerupai / tiruan
Contoh :
- Adik membuat kapal-kapalan dari kertas yang dibuang Pak Jamil tadi pagi.
- Si Ucup main rumah-rumahan sama si Wati seharian di halaman rumah.
5. Kata ulang yang menyatakan saling atau berbalasan
Contoh :
- Ketika mereka berpacaran selalu saja cubit-cubitan sambil tertawa.
- Saat lebaran biasanya keluarga di rt.4 kunjung-kunjungan satu sama lain.
6. Kata ulang yang menyatakan bertambah atau makin
Contoh :
- Biarkan dia main hujan! lama-lama dia akan kedinginan juga.
- Ayah meluap-luap emosinya ketika tahu dirinya masuk perangkap penipu kartu kredit.
7. Kata ulang yang menyatakan waktu atau masa
Contoh :
- Orang katro dan ndeso itu datang ke rumahku malam-malam.
- Datang-datang dia langsung tidur di kamar karena kecapekan.
8. Kata ulang yang menyatakan berusaha atau penyebab
Contoh :
- Setelah kejadian itu dia menguat-nguatkan diri mencoba untuk tabah.
9. Kata ulang yang menyatakan terus-menerus
Contoh :
- Anjing buduk dan rabies itu suka mengejar-ngejar anak kecil yang lewat di dekat kandangnya yang bau.
- Mirnawati selalu bertanya-tanya pada dirinya apakah kesalahannya pada Bram dapat termaafkan.
10. Kata ulang yang menyatakan agak (melemahkan arti)
Contoh :
- Karena berjalan sangat jauh kaki si Adul sakit-sakit semua.
- Jangan tergesa-gesa begitu dong! Nanti jatuh.
11. Kata ulang yang menyatakan beberapa
Contoh :
- Sudah bertahun-tahun nenek tua itu tidak bertemu dengan anak perempuannya yang pergi ke Hong Kong.
- Mas parto berminggu-minggu tidak apel ke rumahku. Ada apa ya?
12. Kata ulang yang menyatakan sifat atau agak
Contoh :
- Lagak si bencong itu kebarat-baratan kayak dakocan.
- Wajahnya terlihat kemerah-merahan ketika pujaan hatinya menyapa dirinya.
13. Kata ulang yang menyatakan himpunan pada kata bilangan
Contoh :
- Coba kamu masukkan gundu bopak itu seratus-seratus ke dalam tiap plastik!
- Jangan beli beyblade banyak-banyak nak! Nanti uang sakumu habis.
14. Kata ulang yang menyatakan bersengang-senang atau santai
Contoh :
- Dari tadi padi si Bambang kerjanya cuma tidur-tiduran di sofa.
- Ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan selalu riang kemari.
5 b
Perluasan Makna
yang dimaksud perubahan makna meluas adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata atau leksem yang pada mulanya hanya memiliki sebuah ‘makna’, tetapi kemudian karena berbagai faktor menjadi memiliki makna-makna lain.
Contoh kata yang mengalami Perluasan makna yaitu kata kakak, ibu, adik, bapak, dan saudara.
Kakak yang sebenarnya bermakna ‘saudara sekandung yang lebih tua’, meluas maknanya menjadi siapa saja yang pantas dianggap atau disebut sebagai saudara sekandung yang lebih tua. Begitu juga dengan adik, ibu, bapak dan saudara.
5 c
Penyempitan Makna
Yang dimaksud perubahan menyempit adalah gejala yang terjadi pada sebuah kata yang pada mulanya mempunyai makna yang cukup luas, kemudian berubah menjadi terbatas hanya pada sebuah makna saja.
Misalnya kata ahli, kata ahli pada mulanya berarti ‘orang yang termasuk dalam satu golongan atau keluarga’ seperti dalam frase ahli waris yang berarti ‘orang yang termasuk dalam satu kehidupan keluarga’, dan juga ahli kubur yang berarti ‘orang yang sudah dikubur ‘. Kini kata ahli sudah menyempit maknanya karena hanya berarti ‘orang yang pandai dalam satu cabang ilmu atau kepandaian’ seperti tampak dalam frase ahli sejarah, ahli purbakala, ahli bedah, dan sebagainya.
5 d
Pengertian Paragraf Analogi
Analogi adalah penalaran induktif dengan membandingkan dua hal yang banyak persamaannya. Berdasarkan persamaan kedua hal tersebut, Anda dapat menarik kesimpulan.
contoh :
Demikian pula dengan manusia yang tidak berilmu dan tidak berperasaan, ia akan sombong dan garang. Oleh karena itu, kita sebagai manusia apabila diberi kepandaian dan kelebihan, bersikaplah seperti padi yang selalu merunduk.
6 a
Majas Metonimia : Majas yang memakai merek suatu barang. Contoh : Rara suka membeli Silverqueen.
6 b
Majas Eufemisme : Majas yang menggunakan kata – kata / ungkapan halus / sopan.
Contoh : Para tunakarya itu perlu diperhatikan
6 c
Majas Sinedoke Totem pro parte : Majas yang menyebutkan keseluruhan, tertapi hanya untuk sebagian saja.
Contoh : Kaum wanita memperingati Hari Kartini
6 d
Majas Litotes : Majas yang digunakan untuk mengecilkan kenyataan dengan tujuan untuk merendahkan hati.
Contoh : Mari naik sepeda butut saya ini ( Padahal sepedanya bermerk “Ninja” yang masih gress)
7 a
Perbedaan paragraf argumentasi dan eksposisi
Paragraf argumentasi adalah paragraf yang menjelaskan suatu hal dengan menambahnya menggunakan penguatan-penguatan argumentatif atau hal-hal yang berupa bukti.
Sedangkan paragraph eksposisi adalah paragraph yang menjelaskan tentang sesuatu tanpa ada bukti-bukti yang dikemukakan.
7 b
Perbedaan kalimat berpelengkap dan berobjek.
Kalimat berpelengkap adalah kalimat yang tidak bisa diubah menjadi kalimat pasif.
Sedangkan kalimat berobjek adalah kalimat yang bisa diubah menjadi kalimat pasif.
7 c
Perbedaan paragraph deduktif dan paragraph induktif
Paragraph deduktif adalah paragraph yang diawali dengan ide pokok dan diikuti dengan kalimat-kalimat penjelas.
Sedangkan paragraph induktif adalah paragraph yang diawali dengan beberapa kalimat penjelas dan diakhiri dengan kalimat umum atau ide pokok.
8
Ketika hujan turun dengan derasnya / dan disertai guntur yang menggelegar / Andi
pergi / menolong kakek tua yang kelaparan itu / ke puskesmas.
9
Figure guru yang baik.
Menurut pendapat saya, figure guru yang baik adalah seorang guru yang penuh tanggung jawab dalam mendidik dan membimbing murid-muridnya, adil dalam bertindak. Sikap adil disini sangatlah penting karena akhir-akhir ini sering dijumpai seorang guru yang lebih mendekati murid-murid yang pandai daripada yang bodoh, lebih mendekati murid-murid yang cantik atau tampan daripada yang jelek. Hal ini sangat penting untuk dihindari. Selain itu, seorang guru haruslah memiliki sikap yang bias diteladani atau yang bias memberikan inspirasi kepada murid-muridnya agar murid-muridnya memiliki motivasi memadai untuk menjadi orang yang sukses !
10
Komentar oleh indra hardiyansyah Juli 1, 2009 @ 12:16 pmApabila siswa tidak suka terhadap suatu mata pelajaran, orang pertama yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah guru. Dikarenakan gurulah yang bisa menuntun siswa untuk suka terhadap suatu mata pelajaran. Bagaimana sikap guru dalam mengajar sangat menentukan suka atau tidak sukanya siswa terhadap suatu mata pelajaran. Guru haruslah variatif dan penuh kreasi dalam menyampaikan materi. Sikap perhatian guru terhadap siswa juga sangat membantu menumbuhkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran. Namun, perhatian yang positif tentunya yang diterapkan.
Assalamualaikum…
pak…
saya sudah kirim email (berisi tentang tugas) ke alamat emailnya pak fus. tapi, nama saya kok tidak tercantum ya ?
terimakasih…
Komentar oleh indra hardiyansyah Juli 2, 2009 @ 1:30 amkulonuwun……………………………
pak
vj alee itu ichwan padiyanto
awas kliru lho pak, mengko gak metu nilaie
oyo, aku kasih nilai A lho pak……..
teguh.
Komentar oleh teguh Juli 3, 2009 @ 8:45 am