Diarsipkan di bawah: Uncategorized
KETERAMPILAN BERBAHASA INDONESIA
A. Pendahuluan
Keterampilan berbahasa Indonesia diberikan kepada guru, bertujuan untuk meningkatkan keterampilan berbahasa guru Sekolah Dasar. Keterampilan berbahasa Indonesia mencakup: Keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan menulis, dan keterampilan membaca. Penyajian materi ini dilatarbelakangi oleh suatu kenyataan bahwa keterampilan berbahasa sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.
Mari perhatikan kehidupan masyarakat. Anggota-anggota masyarakat saling berhubungan dengan cara berkomunikasi. Komunikasi dapat berupa komunikasi satu arah, dua arah, dan multi arah. Komunikasi satu arah terjadi ketika seseorang mengirim pesan kepada orang lain, sedangkan penerima pesan tidak menanggapi isi pesan tersebut. Misalnya, khotbah jumat dan berita di TV atau radio. Komunikasi dua arah terjadi ketika pemberi pesan dan penerima pesan saling menanggapi isi pesan. Komunikasi multi arah terjadi ketika pemberi pesan dan penerima pesan yang jumlahnya lebih dari dua orang saling menanggapi isi pesan (Abd. Gofur, 1: 2009)
Dalam kegiatan komunikasi, pengirim pesan aktif mengirim pesan yang diformulasikan dalam lambang-lambang berupa bunyi atau tulisan. Proses ini disebut dengan encoding. Selanjutnya si penerima pesan aktif menerjemahkan lambang-lambang tersebut menjadi bermakna sehingga pesan tersebut dapat diterima secara utuh. Proses ini disdebut dengan decoding.
B. Aspek-aspek Keterampilan berbahasa
Sehubungan dengan penggunaan bahasa, terdapat empat keterampilan dasar berbahasa yaitu, menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. Keempat keterampilan tersebut saling terkait antara yang satu dengan yang lain.
B.1. Hubungan Menyimak dengan Berbicara
Menyimak dan berbicara merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung. Menyimak bersifat reseptif, sedangkan berbicara bersifat produktif. Misalnya, komunikasi yang terjadi antar teman, antara pembeli dan penjual atau dalam suatu diskusi di kelas. Dalam hal ini A berbicara dan B mendengarkan. Setelah itu giliran B yang berbicara dan A mendengarkan. Namun ada pula dalam suatu konteks bahwa komunikasi itu terjadi dalam situasi noninteraktif, yaitu satu pihak saja yang berbicara dan pihak lain hanya mendengarkan. Misalnya Khotbah di masjid, dimana pemceramah menyampaikan ceramahnya, sedangkan yang lainnya hanya mendengarkan.
Terkait dengan kegiatan pembelajaran, guru dituntut untuk mampu memodifikasi aktivitas pembelajaran agar siswa mampu untuk melaksanakan kegiatan komunikasi baik satu arah, dua arah, maupun multi arah. Aktivitas yang dapat dilakukan adalah dengan metode diskusi kelompok, Tanya jawab, dan sebagainya.
B.2. Hubungan Menyimak dan Membaca
Menyimak dan membaca sama-sama merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat reseptif. Menyimak berkaitan dengan penggunaan bahasa ragm lisan, sedangkan membaca merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Penyimak maupun pembaca malakukan aktivitas pengidentifikasian terhadap unsure-unsur bahasa yang berupa suara (menyimak), maupun berupa tulisan (membaca) yang selanjutnya diikuti diikuti dengan proses decoding guna memperoleh pesan yang berupa konsep, ide, atau informasi.
Keterampilan menyimak merupakan kegiatan yang paling awal dilakukan oleh manusia bila dilihat dari proses pemerolehan bahasa. Secara berturut-turut pemerolehan keterampilan berbahasa itu pada umumnya dimulai dari menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kegiatan menyimak diawali dengan mendengarkan, dan pada akhirnya memahami apa yang disimak. Untuk memahami isi bahan simakan diperlukan suatu proses berikut; mendengarkan, mengidentifikasi, menginterpretasi atau menafsirkan, memahami, menilai, dan yang terakhir menanggapi apa yang disimak. Dalam hal ini menyimak memiliki tujuan yang berbeda-beda yaitu untuk; mendapatkan fakta, manganalisa fakta, mengevaluasi fakta, mendapat inspirasi, menghibur diri, dan meningkatkan kemampuan berbicara.
Menyimak memiliki jenis-jenis sebagai berikut:
1. Menyimak kreatif: menyimak yang bertujuan untuk
mengembangkan daya imajinasi dan kreativitas pembelajar.
2. Menyimak kritis: menyimak yang dilakukan dengan sungguh-
sungguh untuk memberikan penilaian secara objektif.
3. Menyimak ekstrinsik: menyimak yang berhubungan dengan hal-hal
yang tidak umum dan lebih bebas.
4. Menyimak selektif: menyimak yang dilakukan secara sungguh-
sungguh, dan memilih untuk mencari yang terbaik.
5. Menyimak sosial: menyimak yang dilakukan dalam situasi-situasi
sosial.
6. Menyimak estetik: menyimak yang apresiatif, menikmati keindahan
cerita, puisi, dll.
7. Menyimak konsentratif: menyimak yang merupakan sejenis telaah
atau menyimak untuk mengikuti petunjuk-petunjuk.
B.3. Hubungan Membaca dan Menulis
Membaca dan menulis merupakan aktivitas berbahasa ragam tulis. Menulis adalah kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, sedangkan membaca adalah kegiatan yang bersifat reseptif. Seorang penulis menyampaikan gagasan, perasaan, atau informasi dalam bentuk tulisan. Sebaliknya seorang pembaca mencoba memahami gagsan, perasaan atau informasi yang disajikan dalam bentuk tulisan tersebut.
Membaca adalah suatu proses kegiatan yang ditempuh oleh pembaca yang mengarah pada tujuan melalui tahap-tahap tertentu (Burns, 1985). Proses tersebut berupa penyandian kembali dan penafsiran sandi. Kegiatan dimulai dari mengenali huruf, kata, ungkapan, frasa, kalimat, dan wacana, serta menghubungkannya dengan bunyi dan maknanya (Anderson, 1986). Lebih dari itu, pembaca menghubungkannya dengan kemungkinan maksud penulis berdasarkan pengalamannya (Ulit, 1995). Sejalan dengan hal tersebut, Kridalaksana (1993) menyatakan bahwa membaca adalah keterampilan mengenal dan memahami tulisan dalam bentuk urutan lambing-lambang grafis dan perubahannya menjadi bicara bermakna dalam bentuk pemahaman diam-diam atau pengujaran keras-keras. Kegiatan membaca dapat bersuara nyaring dan dapat pula tidak bersuara (dalam hati).
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambing-lambang grafis yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambing-lambang grafis tersebut (Bryne, 1983). Lebih lanjut Bryne menyatakan bahwa mengarang pada hakikatnya bukan sekedar menulis symbol-simbol grafis sehingga berbentuk kata, dan kata-kata tersusun menjadi kalimat menurut peraturan tertentu, akan tetapi mengarang adalah menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap, dan jelas sehingga buah pikiran tersebut dapat dikomunikasikan kepada pembaca.
Secara singkat dapat dikatakan bahwa dalam kegiatan karang-mengarang, pengarang menggunakan bahasa tulis untuk menyatakan isi hati dan buah pikirannya secara menarik kepada pembaca. Oleh karena itu, di samping harus menguasai topik dan permasalahannya yang akan ditulis, penulis dituntut menguasai komponen (1) grafologi, (2) struktur, (3) kosakata, dan (4) kelancaran.
Aktivitas menulis mengikuti alur proses yang terdiri atas beberapa tahap. Mckey mengemukakan tujuh tahap yaitu (1) pemilihan dan pembatasan masalah, (2) pengumpulan bahan, (3) penyusunan bahan, (4) pembuatan kerangka karangan, (5) penulisan naskah awal, (6) revisi, dan (7) penulisan naskah akhir.
Secara padat, proses penulisan terdiri atas lima tahap yaitu; (1) pramenulis, (2) menulis, (3) merevisi, (4) mengedit, dan (5) mempublikasikan.
1. Pramenulis
Pramenulis merupakan tahap persiapan. Pada tahap ini seorang penulis melakukan berbagai kegiatan, misalnya menemukan ide/gagasan, menentukan judul karangan, menentukan tujuan, memilih bentuk atau jenis tulisan, membuat kerangka dan mengumpulkan bahan-bahan.
Ide tulisan dapat bersumber dari pengalaman, observasi, bahan bacaan, dan imajinasi. Oleh karena itu, pada tahap pramenulis diperlukan stimulus untuk merangsang munculnya respon yang berupa idea tau gagasan. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas, misalnya membaca buku, surat kabar, majalah, dan lain-lain.
Penentuan tujuan menulis erat kaitannya dengan pemilihan bentuk karangan. Karangan yang bertujuan menjelaskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan eksposisi; karangan yang bertujuan membuktikan, meyakinkan, dan membujuk dapat disusun dalam bentuk argumentasi dan persuasi. Karangan yang bertujuan melukiskan sesuatu dapat ditulis dalam bentuk karangan deskripsi. Di samping seorang penulis dapat memilih bentuk prosa, puisi, atau drama untuk mengkomunikasikan gagasannya.
2. Menulis
Tahap menulis dimulai dari menjabarkan ide-ide ke dalam bentuk tulisan. Ide-ide dituangkan dalam bentuk satu karangan yang utuh. Pada tahap ini diperlukan berbagai pengetahuan kebahasaan dan teknik penulisan. Pengetahuan kebahasaan digunakan untuk pemilihan kata, penentuan gaya bahasa, dan pembentukan kalimat. Sedangkan teknik penulisan diterapkan dalam penyusunan paragraf sampai dengan penyusunan karangan secara utuh.
3. Merevisi
Pada tahap merivisi dilakukan koreksi terhadap keseluruhan paragraf dalam tulisan. Koreksi harus dilakukan terhadap berbagai aspek, misalnya struktur karangan dan kebahasaan. Struktur karangan meliputi penataan ide pokok dan ide penjelas serta sistematika penalarannya. Sementara itu aspek kebahasaan meliputi pemilihan kata, struktur bahasa, ejaan dan tanda baca.
4. Mengedit
Apabila karangan sudah dianggap sempurna, penulis tinggal melaksanakan tahap pengeditan. Dalam pengeditan ini diperlukan format baku yang akan menjadi acuan, misalnya ukuran kertas, bentuk tulisan, dan pengaturan spasi. Proses pengeditan dapat diperluas dan disempurnakan dengan penyediaan gambar atau ilustrasi. Hal itu dimaksudkan agar tulisan itu menarik dan lebih mudah dipahami.
5. Mempublikasikan
Mempublikasikan mempunyai dua pengertian. Pengertian pertama, berarti menyampaikan karangan kepada public dalam bentuk cetakan, sedangkan pengertian yang kedua disampaikan dalam bentuk noncetakan. Penyampaian noncetakan dapat dilakukan dengan pementasan, penceritaan, peragaan, dan sebagainya.
B.4. Hubungan Menulis dengan Berbicara
Berbicara dan menulis merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat produktif. Berbicara merupakan kegiatan ragam lisan, sedangkan menulis merupakan kegiatan berbahasa ragam tulis. Menulis pada umumnya merupakan kegiatan berbahasa tak langsung, sedangkan berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang bersifat langsung.
Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasi yang dalam proses itu terjadi pemindahan pesan dari satu pihak (komunikator) ke pihak lain (komunikan). Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam symbol-simbol yang dipahami oleh kedua belah pihak (Abd. Gofur, 6 : 2009)
Aspek-aspek yang dinilai pada kegiatan berbicara terdiri atas aspek kebahasaan dan nonkebehasaan. Aspek kebahasaan terdiri atas; ucapan atau lafal, tekanan kata, nada dan irama, persendian, kosakata atau ungkapan, dan variasi kalimat atau struktur kalimat. Aspek nonkebahsaan terdiri atas; kelancaran, penguasaan materi, keberanian, keramahan, ketertiban, semangat, dan sikap.
Langkah-langkah yang harus dikuasai oleh seorang pembicara yang baik adalah:
1. Memilih topik, minat pembicara, kemampuan berbicara, minat pendengar, kemampuan mendengar, waktu yang disediakan.
2. Memahami dan menguji topik, memahami pendengar, situasi, latar belakang pendengar, tingkat kemampuan, sarana.
3. Menyusun kerangka pembicaraan, pendahuluan, isi dan penutup.
Tentang penulis :
Fusliyanto, S.Pd adalah Dosen Luar Biasa Bahasa Indonesia FKIP-UNEJ dan Dosen Universitas Terbuka dan Guru SMAN 2 JEMBER.
SOAL TES BAHASA INDONESIA
DAFTAR PUSTAKA
Gofur, Abd. 2009. Modul Diklat Guru Bahasa Indonesia. Medan : Balai Diklat Keagamaan Medan.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Tutup Mata
Tutup telinga
Tutup Hati
Tutup Rasa
Tutup Nafsu
Jangan Tutup Usia
Pertemukan dengan Romadhon dan syawal
Selamat menunaikan ibadah puasa
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
kalau boleh jujur sich,sudah banyak kesempatan yang dah terlewatkan dikala jadi siswa Di SMADA pak.ternyata banyak ilmu yang berguna dan bisa dijadikan bekal dalam kerjaanku sekarang,padahal tempat menimba ilmu yang paling murah ya waktu sekolah itu,dari pada kursus dengan biaya sekarang cukup tinggi itupun satu materi saja.pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih buat smada yg sudah mendidik murid2mu.(sayang ya aku gak bisa kembali menjadi siswa di smada lagi seperti dulu.)buat adik2 di smada beruntunglah kalian yang bisa memanfaatkan kesempatan menjadi siswa di smada,jagan di buang sia2lah kesempatan ini.ambil semua ilmu yg di ajarkan suatu hari pasti ada gunanya bagi kita semua.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Berikut Nama-nama yang telah mengumpulkan baik lewat blog atau e-mail
NB: Bagi 3 mahasiswa yang belum tanda tangan harap temui saya. Call 0331 3689227
Bagi yang belum terdaftar namanya Call Juga
fatimah azzahro
silvy dwy rahmawati
denies hermawan
nurul elfatul faris
ninin yunita kristanti
oky natacya dewi
dwi hidayati
helmi nilasari
tegus basuki
dyah kirana
sabib ulul albab
atika wahyuningtyas arifi
yaumum afifah
fredy manuputy
diana
novario ari ardiansyah
dian kusuma
ahmad majid arrosyid
indah wulan
Iin Farida
prasdita saputri
ainur rofik
carina astari
VJ Alee
Ariel sabib
joe A
Ari mulyaningsih
kamila
santi nurindah sari
aisa nur rohmah
mardiyah ika septi
ria
ailianan trisna
risca ningrum
vaega rohidzafi
laila wahidan
mila susanti
ina
muhimatul ailiyah
pipit ermawati
siti masruroh
luluk kamila
rahma wulan puspareni
siska muawanah
lita yuli hartatik
selfi yuni fitria
titis budi sevani
wahdiyatul masruroh
nailul rochmatil maula
nur muhlisoh armi
rizki murniasih
siti mutmainah
laila R.W
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Kerjakan dengan benar!
1. Jelas dengan memberi contoh paragraf Deduktif! (Contoh tidak boleh sama apabila ditemukan Kesamaan dalam contoh dan jawaban maka Anda Tidak Lulus).
2. Jelaskan Jenis-jenis Klausa dengan menyertakan contoh masing-masing 2(dua)!
3. Jelaskan dengan memberi contoh:
a. peyorasi
b. sinestesia
c. Asosiasi
d. Afiksasi
4. Jelaskan dengan singkat pengertian “Kesalahan dalam Pengkajaian Buku Teks” dari kacamata
Saudara!
5. Jelaskan dengan memberi contoh:
a. Kata Ulang
b. Perluasan Makna
c. Penyempitan Makna
d. Paragraf Analogi
6. Beri contoh:
a. Majas Metonemia
b. Majas Eufemisme
c. Majas Sinekdok Totem Pro Parte.
d. Majas Litotes
7. Jelaskan perbedaan
a. Karangan argumentasi VS karangan Eksposisi
b. Kalimat Berpelengkap VS kalimat berobjek
c. Paragraf Deduktif VS Paragaraf Induktif
8. Tentukan klausa dari kalimat dibawah ini dengan memberi penanda penjedaan ( / ) dari masing-
masing klausa!
Ketika hujan turun dengan derasnya dan disertai guntur yang menggelegar Andi
pergi menolong kakek tua yang kelaparan itu ke puskesmas.
9. Bagaimanakah pendapat Saudara tentang figur guru yang BAIK?
10. Siapakah yang paling bertanggung jawab apabila siswa tidak suka dengan sebuah mata
pelajaran, jelaskan pendapat Saudara!
Jawaban ditunggu maksimal Jam 20.00 tgl 24 juni 2009.
ANDA COMMENT DI BLOG INI dengan menyertakan NAMA NIM dan Angkatan ANDA
CONTOH:
Jawaban
NAMA : Fusliyanto
NIM : 9402108268
Angkatan: 1994
1. ………………..
2. ……………….
3. ……………….
4. ………………. dst
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Lulus kok susah…
gak lulus tambah susah…
sekolah 3 tahun hanya dihargai dalam waktu 3-5 hari saja… setelah itu mati… kalau gak lulus….
kasihan yang lulus… lebih kasihan lagi yang gak lulus…
semangat… semangat… … a w a s tahun depan harus lulus 100% ….
kalau pengen lulus dengan mulus… banyak makan bulus biar licin….
nulis lagi ngawur dan stresss.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Semua yang kau kenal
semua yang kau cinta
akan mencintaimu dengan meninggalkanmu
sebab akan terlihat seberapa besar cintamu
setelah ditinggalkan
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Sungguh menyakitkan ketika menyaksikan banyak orang yang melakukan kesalahan dan kesengajaan untuk memperbaiki keadaan menjadi lebih baik.
Tak luput anak SMA seluruh Indonesia. ada yang belajar, ada yang santai, ada yang bingung menyembunyikan HP di balik celana…
semua itu hanya demi satu hal…
LULUS UNAS SMA TAHUN 2009
ingat masih banyak tantangan yang lebih susah yang tidak bisa anda hadapi dengan hanya menggunakan HP dan Kerjasama yang salah!
Lulus lah dengan bangga dan mendapatkan kualitas durian Purwosari Jember
Tulisan ini di buat khusus anak-anak SMADA Jember yang baru Selesai UN 2009
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
1. Menikah dengan orang yang kau cintai
atau
2. Mencintai orang yang kau nikahi
Mencintai dan dicintai adalah hal yang diinginkan oleh setiap orang. Cinta antara orang tua dan anaknya, suami dengan istri, kakak dengan adik atau antara sesama manusia. Tak jarang beberapa benda-benda kesayang pun tak luput dari cinta kita, seperti mobil, baju, hp, komputer,dll. Semuanya manusiawi.
Namun kita perlu waspada ketika cinta kita kepada anak, istri, suami, kakak, adik dan orang tua bahkan harta benda telah membuat kita jauh atau bahkan lupa kepada Sang pemilik Cinta yang hakiki.
Saat kita menikah, kita telah dianggap telah melaksanakan 1/2 dari agama. Artinya yang setengahnya lagi harus kita gapai bersama pasangan didalam mahligai rumah tangga.
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Saya punya Seorang Mbah…
Mbah saya sakti mandra “guNa”.. dia bisa menjawab semua pertanyaan Anda..
kalau penasaran… klik www.pengawas5.wordpress.com
selamat mengunjungi… tanya saja semua…
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
a
b
c d e f g h i j
Apalah arti tulisan ini ??????
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
sEBUAH KATA
YANG MUNGKIN
TAK PERNAH TERLUPAKAN
KAU …
BODOH MR.FUS
KENAPA BEGITU CEROBOH
MENGGUNTING SISI HIDUP
SEORANG ANAK KECIL
DI DEPAN MATAMU
AKU MENYESAL
MELUKAIMU
TERKULAI
LEMAS
RASANYA
KAKIKU
MAAFKAN
ANAKKU
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
1. Kalimat majemuk bertingkat
Ciri penanda kalimat majemuk bertingkat adalah dengan menentukan salah satu unsur kalimat yangg diperluas. Contoh : “perluasan Subjek”
Sutrisno menidurkan adiknya.
sutrisno akan kita perluas: membentu pola kalimat baru.
menjadi==> Petugas perpus sma 2 yang tampan itu menidurkan adiknya.
atau contoh yang lain berupa perluasa Objek.
Sutrisno menidurkan adiknya.
menjadi
Sutrisno menidurkan saudara terkecilnya.
2. Kalimat berobjek
Kalimat berobjek adalah kalimat yang terdiri dari subjek predikat dan objek.
ciri penanda:
kalimat dapat dipasifkan
objek bisa dijadikan objek
Sutrisno makan nasi
S P O
dipasikan menjadi
Nasi dimakan Sutrisno
3. Wawancara
Teknik wawancara dapat dilakukan dengan menggunakan kiat 5 W 1 H
what?
where?
when?
why?
who?
How
4. Kalimat Ambigu
Kalimat ambigu adalah kalimat yang memiliki banyak arti atau multi tafsif
contoh
Kakak makan kucing mati.
akan menjadi rancu kalau menggunakan penekanan dalam pengucapannya.
kakak makan, kucing mati
kakak, makan kucing mati
kakak makan kucing, mati
SEKIAN dulu Matur Thank Kyu
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Kepala Sekolah dan Manajemen Bakso
Kepala Sekolah
dan
Manajemen Bakso
Sebuah sinyalemen menarik tentang kepala sekolah diungkap Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar. Dalam sebuah Sarasehan Pendidikan yang diselenggarakan tepat di Hari Pendidikan Nasional (2/5) kemarin, ia menyatakan bahwa sebagian kepala sekolah (kepsek) masih menerapkan manajemen bakso (Radar Banjar, 4/5). Menarik, karena sinyelemen ini menganalogikan profesionalisme seorang kepala sekolah dengan profesionalisme tukang bakso. Apalagi pernyataan ini muncul dari mulut seorang kepala dinas yang merupakan atasan langsung sang kepsek.
Dalam pandangannya, seorang kepsek dianggap masih menggunakan manajemen bakso apabila dalam perencanaan dan pelaksanaan berbagai programnya tidak melibatkan orang-orang yang ada di sekitarnya. Manajemen seorang penjual bakso adalah merencanakan sendiri, membuat bahan sendiri, menyiapkan sendiri, menjual sendiri, dan memungut hasil jualannya sendiri. Seorang kepsek yang menggunakan manajamen bakso dalam menjalankan tugasnya berakibat pada ketidakpuasan dan protes guru-gurunya. Demikianlah yang dikatakan oleh kepala dinas tersebut.
Sesungguhnya apakah memang ada kepsek yang demikian itu? Mengelola sebuah institusi yang bernama sekolah dengan cara seperti mengelola gerobak bakso! Untuk memastikannya barangkali diperlukan sebuah penelitian yang lebih cermat. Tentunya harus dengan indikator yang jelas bagaimana sebenarnya “manajemen bakso” tersebut dan bagaimana kepsek yang menggunakan manajemen tersebut. Sebab, ini menyangkut persoalan besar dunia pendidikan. Kalau sinyalemen itu benar, maka makin terjawablah bahwa salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan kita adalah karena salah urus sekolah.
Sejenak kita bayangkan bagaimana sebuah sekolah dikelola dengan manajemen bakso. Sebagai seorang pemimpin, semestinya kepsek bisa memanfaatkan semua potensi guru dan staf sekolah untuk melaksanakan programnya. Sehingga untuk tugas-tugas tertentu, kepsek bisa mendelegasikan kepada bawahannya. Namun, seperti layaknya tukang bakso, kepsek ternyata sangat percaya diri untuk mengerjakannya sendiri. Apalagi bila menyangkut urusan uang. Mulai dari menyusun program, membuat proposal, mengajukannya, mengambil hasilnya bila disetujui, bahkan ketika harus membelanjakannya. Sedangkan guru dan staf sekolah lainnya hanya berkesempatan meng’amin’kannya.
Contoh kasus yang digambarkan oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar adalah ketika ia meminta kepada bendahara sekolah (biasanya guru atau staf) untuk mengambil Dana Bantuan Operasional (DBO) ke dinas, ternyata yang datang kepala sekolah sendiri. Menstempel sendiri, memprogram sendiri. Anehnya, ketika ditanyakan kepada guru-guru bawahannya, ternyata kebanyakan mengaku tidak tahu tentang adanya bantuan tersebut. Terlepas benar atau tidaknya kasus yang digambarkan tersebut, adanya kepsek yang bergaya tukang bakso ini tentu harus membuat kita prihatin.
Peran Kepsek
Di sekolah, kepsek bukanlah segala-galanya. Ia adalah bagian dari komunitas warga sekolah lainnya, seperti guru, siswa, staf tata laksana, dan pesuruh sekolah. Bahkan, kepsek adalah bagian terkecil dari ekosistem sebuah sekolah yang tidak sekadar dihuni oleh warga sekolah, tapi juga oleh komunitas lain seperti sarana dan prasarana, kurikulum, KBM, dan sebagainya. Namun, dalam struktur suatu unit sekolah, kepsek adalah pemimpin tertinggi yang membawahi seluruh ekosistem yang ada di dalamnya. Sehingga, berdasarkan teori piramida, kepsek adalah puncak yang membawa pengaruh bagi badan dan akar bangunan di bawahnya yang bernama sekolah.
Sebagai seorang kepala sekolah, tugas pokoknya adalah “memimpin” dan ” mengelola” guru dan staf lainnya untuk bekerja sebaik-baiknya demi mencapai tujuan sekolah. Memimpin (to lead) sekolah adalah cara atau usaha kepsek dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa, dan pihak lain yang terkait, untuk bekerja / berperan serta guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Burhanuddin, 1994). Sedangkan mengelola (to manage) sekolah artinya mengatur agar guru dan staf sekolah bekerja secara optimal, dengan mendayagunakan sarana / prasarana yang dimiliki serta potensi masyarakat demi mendukung ketercapai tujuan sekolah (Effendi, dkk., 1997).
Kepemimpinan itu situasional. Suatu kepemimpinan dapat efektif untuk situasi tertentu dan kurang efektif untuk situasi yang lain. Sekalipun menurut para ahli tipe dasar kepemimpinan itu adalah otoriter, demokratis, dan laissez-faire, namun bukan berarti ada tipe kepemimpinan yang jelek atau tidak boleh digunakan. Dalam situasi perang, tipe kepemimpinan otoriter mungkin efektif agar semua terkendali. Dalam situasi darurat sekolah, seperti kebakaran atau perkelahian massal pelajar maka kepemimpinan otoriter juga efektif. Sebaliknya untuk situasi normal di sekolah, kepemimpin otoriter sangat tidak efektif. Kenyataannya sangat jarang dan hampir tidak pernah sebuah sekolah berada dalam situasi darurat. Jadi, akan terasa minor bila ada kepsek yang bergaya otoriter dalam memimpin sekolah.
Yang sering terjadi di sekolah adalah adanya kepsek yang tidak memahami dan melaksanakan prinsip kepemimpinan. Seperti yang kita ketahui, ada sepuluh prinsip kepemimpinan yang dikemukakan oleh Sergiosanni (1987) dalam bukunya yang berjudul The Principalship: A Reflective Practice Perspective, yang biasa dipergunakan sebagai dalil kepemimpinan di mana pun. Kesepuluh prinsip itu adalah: konstruktif, kreatif, partisipatif, koperatif, delegatif, integratif, rasional dan obyektif, pragmatis, keteladanan, adaptabel dan fleksibel. Dari kesepuluh prinsip kepemimpinan tersebut kita bisa melihat prinsip mana saja yang tidak bisa dilaksanakan oleh pemimpin kita di sekolah.
Prinsip kepemimpinan mana yang harus diterapkan kepsek di sebuah sekolah sangat tergantung kepada situasi dan kondisi staf yang dipimpinnya. Jika menghadapi staf yang berkemampuan dan motivasi kerja yang baik, maka prinsip delegatif paling efektif. Untuk staf yang berkemampuan kerja baik, tetapi motivasi kerja kurang, maka prinsip partisipatif paling efektif. Bila menghadapi staf yang berkemampuan kurang baik, tetapi memiliki motivasi kerja baik, maka prinsip konsultatif sangat efektif. Sebaliknya jika menemui staf yang berkemampuan dan motivasi kerja yang kurang, maka prinsip instruktif paling efektif. Permasalahannya seberapa banyak kepsek yang sedang memimpin di sekolah-sekolah saat ini yang memahami dan melaksanakan prinsip-prinsip tersebut. Sebagian dari mereka menjalankan kepemimpinannya hanya dengan naluri kepemimpinan saja dan mengusung alasan “sudah tradisi”.
Prinsip kepemimpinan yang paling utama sebenarnya adalah keteladanan. Seberapa banyak pemimpin di sekolah-sekolah kita yang mengusung keteladanan sebagai hal yang mendasar. Memerintahkan ini itu kepada guru, staf, dan siswa di sekolah tapi tanpa diikuti dengan suatu contoh nyata adalah hal mustahil. Menerapkan aturan disiplin jam masuk dan pulang sekolah kepada warga sekolah tetapi kepsek-nya sendiri masuk dan pulang sekehendak hati tentu tidak akan membuat aturan itu dipatuhi. Mengharuskan warga sekolah mengenakan pakaian kerja dan seragam sekolah yang sesuai dengan hari-harinya tetapi kepsek-nya sendiri berpakaian sesuai seleranya sendiri – seperti tidak mengenakan seragam pramuka pada hari Sabtu – tentu akan membuat penyeragaman itu tidak bertahan lama. Yang lebih sumir lagi adalah ketika sekolah sebagai kawasan bebas rokok ternyata dilanggar sendiri oleh kepseknya – yang celakanya lagi diikuti oleh guru dan stafnya. Akibatnya, ketika kepsek dan guru serta staf sekolah mengepulkan asap rokok di ruang kantor, siswa pun asyik menebar asap di wc dan warung sekolah.
Faktor keteladanan kepsek ini jadi begitu penting mengingat kepemimpinan di sekolah tidak seperti kepemimpinan di institusi lain, apalagi bila dibandingkan kepemimpinan di perusahaan-perusahaan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah wadah mengolah mental dan moral anak bangsa. Bukan sekadar sebagai lumbung ilmu, tetapi juga kran untuk mengucurkan sikap-sikap positif bagi siswa dalam menjalankan kehidupannya. Akan terasa aneh kalau siswa dan warga sekolah lainnya kurang menemukan contoh nyata yang bisa diteladani justru di tempat yang seharusnya menjadi galeri keteladanan. Barangkali perlu suatu gerakan baru untuk lebih mengusung prinsip ing ngarso sung tulodo daripada sekadar tut wuri handayani. Karena menjadi teladan itu lebih utama dan sulit tinimbang cuma mendorong-dorong bawahan untuk melaksanakan tugasnya.
Kepsek sebagai Top Manajer
Sebagai pengelola sebuah sekolah sesungguhnya kepsek adalah seorang top manager. Maksudnya, seorang kepsek adalah pengelola utama seluruh potensi dan segala aktivitas yang ada dan berlangsung di sekolah. Me-manage sekolah agar seluruh potensi sekolah berfungsi secara optimal bukanlah perkerjaan yang gampang. Diperlukan suatu keahlian manajerial yang maksimal. Apalagi yang dikelola bukanlah sekadar benda mati seperti surat-menyurat, buku-buku, kwitansi, atau gedung sekolah saja, namun juga makhluk hidup seperti guru, staf, dan siswa sebagai sumber daya manusia yang memiliki cipta, rasa, dan karsa. Tentu, selain harus menguasai pengetahuan prinsip-prinsip manajemen, seorang kepsek juga menguasai seni mengelola. Seberapa banyak kepsek yang menguasai sekaligus pengetahuan prinsip dan seni manajemen.
Kita mengetahui bahwa hampir semua kepsek berasal dari guru sebagai tenaga teknis pendidikan. Sebagai seorang guru, kemampuan yang ada selama ini terbatas pada teori-teori kependidikan, bagaimana mengajar dan mendidik siswa agar mampu mencapai tujuan intruksional yang akan dicapai. Sedikit, ilmu tentang administrasi pendidikan, yaitu yang tertuang pada kemampuan membuat perangkat pembelajaran, pemberian dan pengolahan nilai, dan pelayanan konseling kepada siswa. Selebihnya adalah belajar dari pelatihan-pelatihan, buku-buku, dan melihat cara kerja kepsek dan staf sekolah tempat guru tersebut bertugas. Jadi, pengetahuan dan kemampuan manajerial ketika masih menjadi seorang guru sangat terbatas.
Ketika guru diberi kesempatan untuk menjadi calon kepsek (cakep), maka barulah sang guru mempelajari teori manajemen tersebut secara seksama. Dalam waktu yang singkat, hingga dinyatakan lulus tes – terlepas dari apakah kelulusannya itu obyektif atau hasil kasak-kusuk – dan mendapat kesempatan untuk mengikut pelatihan cakep, maka barulah mereka dibekali dengan teori-teori kepemimpinan dan manajemen sekolah. Sekarang, tergantung lagi pada kemampuan daya serap cakep bersangkutan, apakah seluruh teori dari pembekalan yang mereka ikuti dapat dipahami dan dikuasai. Karena terus terang saja, yang betul-betul menyerap dan menguasai pembekalan itu saja masih harus berjuang untuk menjalankannya secara ideal ketika sudah menjadi kepsek dengan melihat kondisi ril di sekolah, apalagi cakep yang daya serapnya lemah dan kemampuan memimpinnya yang memang belum maksimal – tapi anehnya lulus jadi cakep – tentu akan ‘terpaksa’ mengelola dengan manajemen sakandak.
Sebagai top manager, kepsek harus melaksanakan empat tahap proses pengelolaan: perencanaan (planning), mengorganisasikan (organizing), pengerahan (actuating), dan pengawasan (controlling), atau biasa disebut POAC (Effendi, dkk., 1997). Dari keempat hal itu, perencanaan adalah tahapan yang paling dikuasai kepsek. Begitu memasuki sekolah tempatnya bertugas, dengan melihat kebijakan sebelumnya yang masih relevan, menganalisis kondisi sekolah, dan mengumpulkan data dan saran dari warga sekolah – sayangnya yang dimintai data biasanya hanya wakasek dan orang yang sebelumnya sudah dikenalnya saja – biasanya seorang kepsek sudah mulai menuangkannya dalam konsep perencanaannya.
Tahapan yang agak terabaikan – dan ini yang sering menimbulkan masalah – adalah pengorganisasian dan pengerahan. Pengorganisasian adalah mengorganisir program pada setiap kegiatan (apa), harus jelas siapa yang mengerjakan, kapan dikerjakan, dan apa targetnya. Dalam mengorganisasikan sekolah, kepsek harus betul-betul mengetahui kemampuan dan karakteristik guru dan staf lainnya sehingga dapat menempatkannya pada posisi yang sesuai. Mendelagasikannya secara merata pada seluruh guru dan staf sesuai kemampuannya. Tidak menumpukkan sekian tugas dan tanggung jawab pada segelintir guru atau staf sehingga terjadi beban tugas yang lebih (overloaded). Sekalipun dengan alasan bahwa hanya guru dan staf itu saja yang mampu – atau hanya merekalah yang bisa diajak ‘kompromi’!
Kalau dalam pengorganisasian kepsek cenderung eksklusif dan tertutup, maka tentu akan menimbulkan sikap skeptis guru atau staf lainnya. Apalagi kalau pengorganisasian soal penggunaan keuangan terjadi di belakang meja. Jangan heran kalau tahapan pengerahan akan menemui hambatan. Kepsek tidak bisa secara optimal menggerakkan orang-orang dalam organisasinya. Warga sekolah akan bergerak sendiri-sendiri sesuai dengan kemauannya tanpa ada yang bisa mengatur. Sementara, kepsek jadi mengerjakan segalanya sendiri. Sekolah mirip sebuah kapal besar penuh penumpang tapi seperti tanpa nakhoda. Ada yang tekun belajar, ada yang menyanyi, ada yang tidur, main catur, rumput di halaman makin tinggi, sampah berserakan di mana-mana, kaca-kaca penuh debu, bendera lusuh dan kotor. Kapal memang masih berlayar dibawa angin sebisanya, namun untuk dapat sampai ke tujuan terlalu banyak yang jadi korban. Semoga sekolah seperti ini hanya mimpi buruk dan tak satu pun dari kita sempat menemukannya.
Seandainya kondisinya memang demikian, jangan heran kalau sinyalemen kepsek dengan manajemen bakso itu benar adanya. Bahkan kalau manajemen bakso ini membudaya, suatu saat akan muncul sekolah yang dipimpin dengan manajemen pentol. Anda tahu penjual pentol? Pentol adalah penyederhanaan dari bakso. Ketika penjual bakso sudah frustasi, maka yang dijual hanya pentolnya dan ia tiadakan mie dan bihunnya. Pernahkah Anda melihat prilaku penjual pentol? Potongan-potongan lidi alat penusuk pentol yang dibuang pembeli setelah menggunakannya dibiarkan penjualnya berserakan di tanah, lengkap dengan ceceran saos tomat yang memerah. Bagi penjual pentol yang penting jualannya laku, soal sampah lidi yang berserakan itu bukan urusannya. Alangkah naifnya kalau ada kepsek yang menganut manajemen pentol, yang penting sekolah tetap jalan, soal warga dan lingkungan sekolah berantakan, itu urusan lain.
Kembali ke persoalan pernyataan kepala dinas tadi tentang adanya kepsek yang masih menerapkan manajemen bakso. Sekarang bola permasalahan kita kembalikan ke kepala dinas yang bersangkutan. Sebagai pihak yang menjadi atasan langsung si kepsek, tindakan apa yang akan Anda lakukan. Apakah kepsek dengan gaya manajemen seperti itu masih perlu dipertahankan. Haruskah menunggu sampai berakhirnya masa jabatan kepsek yang empat tahun itu. Menunggu dan membiarkan sekolah tersebut dipimpin dengan gaya tukang bakso seperti itu justru akan memperburuk iklim pengelolaan sekolah secara umum. Lama-lama kapal sekolah kita akan tenggelam Dan yang menjadi korban tentu anak bangsa yang menggantungkan masa depan pada sekolah tersebut. Jangan mempertahankan jabatan seorang kepsek tapi dengan menggadaikan nasib anak didik kita.